Minggu, 10 April 2011

#NoMention

April 2011,
Situasi makin tidak kondusif, bulan ini baru kusadari kalau aku sebegitu tidak menyenangkan, awal April saja aku jadi malas kuliah, rasanya tiap kuliah beban makin bertambah saja, tapi, dirumah pun, aku jadi makhluk nomaden yang tidak bisa bergerak kemana-mana, jiwaku, ragaku, butuh isi ulang.

Kupikir, dunia kuliah akan lebih baik dari dunia sekolah, tapi sebenarnya, tidak jauh berbeda, rata-rata tiap poin sama. Bulan ini, semester ini, butuh intensitas helaan nafas yang panjang, sebagai alternatif keluhan, lebih baik menghela nafas saja bukan ?

Apa yang membuat dunia kuliahku menjadi begitu tidak menyenangkan ? padahal ketika masuk rasanya aku bisa menjadi seseorang yang biasa, menjalani segala sesuatu dengan seperti biasa, waktu baru masuk dulu aku masih bisa hemat, catatanku masih bisa penuh dan rapi, pulang kuliah tepat waktu dan punya banyak waktu istirahat, teman-teman rasanya bisa bersikap biasa, masih sopan santun sesuai dengan adat istiadat daerah asalnya. Sekarang, satu setengah semester berlalu, rasanya hala-hal tadi hanya kenangan yang menggiurkan, rasanya ingin kembali lagi ke periode itu.
Kemana mereka yang sopan? Kemana keramah-tamahan mereka? Inilah kota teman, bisa merubah seseorang menjadi sesosok makhluk yang tidak terkendali. Orang-orang yang kusebut teman-teman itu, sekarang mungkin kehilangan elemen terbaik dari status mereka “teman”. Anak-anak daerah yang seharusnya dapat menjaga baik adat baik darerahnya bahkan, rasanya sekarang telah berganti kulit menjadi “anak kota”, bahasa yang digunakan mereka sekarang tidak mencirikan bahwa mereka anak daerah, melainkan menyemprotkan identitas kekinian yang makin tidak karuan.

Sesungguhnya aku takut, akan jadi apakah aku 4 tahun lagi ? masihkah aku bisa menjadi seseorang yang beradab ? dapatkah diriku rajin meng-update antiwesternisasi tiap harinya? Ataukah aku akan bernasib tidak jauh berbeda dari mereka? Yang hanya butuh waktu 1,5 semester untuk menjadi orang “barat”?. Kutanamkan dalam hatiku, kusebutkan dalam setiap doaku, mudah-mudahan hal-hal seperti itu menjauh, menjauh sejauh-jauhnya, bahkan kutekadkan, aku lebih baik kehilangan teman daripada kehilangan diriku yang seharusnya.

Kata pepatah, pertemanan butuh kekuatan, pertemanan butuh kompromi, pertemanan butuh pengorbanan. Aku tertarik pada frasa yang terakhir, bahwa “pertemanan sesungguhnya butuh pengorbanan”. Pengorbanan berarti harus rela kehilangan salah satu yang begitu berharga. Namun, apabila “yang berharga” disini adalah diri kita sebenarnya, apakah masih diperlukan apa yang kita panggil sebagai pengorbanan itu ?. Sejujurnya, aku akan menolaknya, seperti kataku tadi, aku lebih baik kehilangan teman, daripada kehilangan diriku yang sebenarnya, aku seseorang yang sulit untuk berpura-pura, rasanya bagaikan memikul beban ribuan ton, aku lebih bahagia menyandang diriku sendiri, lebih gembira jika menjadi diriku sendiri, be my self, sepenuhnya.
Kata-kata yang seringkali menusuk hati sepertinya sudah menjadi obat yang baik untuk diriku. Diguncingi, dikatai, dikritiki di belakang, rasanya sudah menjadi sesuatu yang biasa. Aku sekarang, bukanlah anak SMA yang ketika dicaci maki kemudian berlari ke arah toilet untuk menangis dihadapan pintu toilet dan bak kamar mandi. Setidaknya dengan status “mahasiswa” yang kusandang sekarang, aku bisa menjadi seseorang yang lebih kuat, inilah hidup kawan, seburuk-buruknya harus disyukuri.

Teman, sewaktu-waktu bisa saja menjadi lawan, seseorang mengatakan bahwa dia selamanya tidak akan percaya kepada apa yang disebut persahabatan. Faktanya, hal itu tidak selamanya salah, pertemanan bukan segalanya, ketika kita dihadapkan untuk menjaganya, sebelumnya haruslah kita pertanyakan pada diri kita, akankah kita dapat menjaga diri kita terlebih dahulu ?.

Kebencian tidak ubahnya sampah yang jika disimpan, dipendam begitu lama akan menyebarkan penyakit-penyakit berbahaya yang bisa menular, kata-kata kasar, sebaiknya segera diperbaiki, sebelum orang lain mengecap bahwa diri kita tidak beradab, sensitifitas, bisa diubah, jika tidak, selamanya anda hanya akan menjadi seseorang yang lemah, tidak tahan uji dan rapuh.

Kebiasaan menyindir tidak bisakah dikurangi, sebelum anda menjadi seseorang yang benar-benar mengganggu, kepura-puraan, bisa diubah jika anda bisa menjadi sesoraang yang percaya diri, yang selalu bisa menjadi diri sendiri, hedonis, bukan paham yang baik jika selalu diterapkan di negara kita, apalagi jika hedonitas yang dilakukan tidak mengingat uang jerih payah orang tua kita, no mention.

1 komentar:

  1. Kinda feel the same way loh Indri.. Kuliah mengubah segalanya :O
    Bahkan orang yang "tadinya" aku pikir dan aku percaya nggak akan berubah, ternyata bisa juga berubah. Sampai pada titik dimana aku nggak kenal dia lagi, karena terlalu banyak perubahan :S
    Stay positive, stay strong, stay smart *biar bisa bantuin kuliah umum lagi* :P
    semangaaaaaaaaat! :D

    BalasHapus