Minggu, 27 Februari 2011

Apatisme Klimaks, Masa Bodoh To The Max

Penghujung Februari 2011,
Musim panceklik, makin tercekik. Akhir-akhir ini, aku sering sekali berhalusinasi, bahkan emosiku memuncak sampai pada tahap erupsi, aku sering marah-marah, terlihat kesal pada orang yang bahkan tidak punya salah, yaah makin tidak jelas saja.

Kata temanku, psikologisku sedang masuk pada tahap tertekan, mungkin akibat banyak pikiran, ya, mungkin, mungkin tepat sekali. Tertekan? Ya kurasa itu kata yang tepat, pasalnya di semester dua ini kuliah makin berat saja, tugas makin kejam saja dan jadwal organisasi makin padat saja.

Dua puluh empat Februari, hampir masuk bulan aries, seperti biasa aku masih “sibuk” mengurusi acara angkatan, beberapa minggu terakhir bahkan selalu tiba dirumah hampir larut malam, ketika yang lainnya sedang asyik mengerjakan tugas, aku bahkan belum tiba dirumah. Namun aku masih bersyukur, Tuhan tidak tega menambah beban hidupku dengan yang namanya penyakit.

Sovereign dan Benderang 2010, dua fenomena yang harus kami lewati untuk selanjutnya resmi menjadi bagian dari unitas hubungan internasional Universitas Padjadjaran. Acara ini sesungguhnya “cukup” menguras keringat, waktu bermain, waktu pacaran, bahkan air mata, dan yang terpenting, menguras kantong semua pihak, apa namanya? Dana!

Masih sanggupkah kawan? Berat sekali ya rasanya, berat sekali. Koordinator dana usaha sesungguhnya memang bukan jabatan yang begitu menyenangkan, maaf. Bagi orang luar, bahkan kebanyakan dari kita mungkin konsep dan embel-embelnyalah yang terpenting, namun cobalah realistis, akankah dua “monster” angkatan kita itu akan bangun dari keabstrakannya tanpa apa yang kita panggil si Dana? Akankah keabsurdannya terealisasi tanpanya? Dana ?.

Hari ini, sekadar berbagi, aku berangkat ke kampus dengan sisa-sisa semangat yang ada. Bervisi ingin mengevaluasi program kita bersama, yah, untuk mencari si Dana tadi. 08.37 angkot raksasa fenomenal yang bermerek Damri itu melintas keluar tol, terlalu pagi memang, dari janji pertama kita 09.00 pagi, untuk berkumpul, sharing mengenai masalah yang ada dan untuk berdiskusi dan mencari 16 juta bersama-sama. BerSAMA-SAMA !

09.15, kuhargai bagi yang berinisiatif untuk mau meminta izin untuk telat. 09.30, masih nihil, fatamorgana, meja batu rasanya penuh saja, oleh kita, tapi apa, itu hanya sebatas iglo di gurun pasir saja. 10.00, beberapa teman tiba, aku menghela napas. 10.30 jam di handphone, barulah kami memulai rapat, bayangkan orang indonesia jaman sekarang, tinggal di Jawa tapi patokannya jamnya jam Gadang. Rapat sangat sederhana ini dimulai seadanya lebih ke sharing menganai permasalahan klasik, apatisme klimaks, masa bodoh tothemax. Setidaknya, keberangkatanku dari bandung yang sepagi itu tidak terlalu mubazir, aku bahagia masih bisa menemukan teman-teman yang maih peduli dengan acara kita bersama, terimakasih.

Seusai kuliah, rapat berlanjut, seperti biasa, demikian. Ya Tuhan, sampai pada sesi itu, lagi-lagi persoalan dana. Teman, rasanya mulut ini sudah malas untuk terus menerus membicarakan valuta itu, tapi mau bagaimana lagi? Dialah elemen yang sangat krusial dalam setiap bidang kehidupan manusia, termasuk acara kita. Ketika mencoba berbicara, banyak yang mengobrol, membicarakan ini itu bahkan yang cukup menyakitkan ketika seseorang menyela pembicaraan kita bukan? Menyela untuk sekedar berfoto-foto dan meneriakan jargon, mataku berkaca-kaca tapi kucoba untuk bertahan. Sampai akhirnya kawan, satu kalimat membuat pertahananku runtuh, selaput air mataku kalah, air mataku meleleh, tumpah ruah, clak!. Aku hanya ingin di dengarkan, sebagai manusia aku hanya ingin dihargai.

Aku senang bisa menangis, bukan apa-apa yang kutangiskan, aku hanya menyesali nukleus otakku yang pernah mengeluarkan pikiran untuk mengundurkan diri dari semua ini, namun aku bukan manusia yang tidak punya pendirian, pendirianku tumbuh ketika melihat teman-teman yang masih rela hati mendaftar sebagai koordinator dan panitia inti acara angkatan, kekuatanku meningkat ketika melihat mahasiswa hubungan internasional yang tidak mengenal malu untuk berjualan susu, permen dan coklat, harapanku mekar ketika memandangi mereka yang dicela sebagai renterneir tiap harinya berkeliling mengingatkan sumbangan, aku bahagia setiap mendengar panggilan “AKU MAU J.CO DONG” aku bangga atas mereka yang tidak mengenal panas dan penat mengurusi table, air minum isi ulang itu obat-obatan, bola, tambang dan sepatu, mereka yang tiap detiknya mencuri gambar dari kamera mereka, mengawasi lapangan, mengantar galon air minum, menyusun proposal, sampai membawa kabar gembira memenangkan bale santika dan stadio jati padjadjaran. Mereka, saudara-saudari baruku.

Sampai detik ini, aku tidak pernah berhenti bersyukur untuk pernah mengenal mereka semua. Kesadaran mereka untuk mau menciptakan citra terbaik angkatan patut diapresiasi. Sovereign dan benderang seharusnya bukan lagi menjadi monster melainkan adalah bagian dari kita. Maret 2011 mudah-mudahan kurva defisit kita bisa setidaknya bergerak dari angka 16.000.000 rupiah itu. Mei 2011, mudah-mudahan kita berhasil menjadikan angkatan kita layak angkatan atas sebut sebagai adik. Dengan ini kawan, sama sekali tidak ada niatan untuk saling menyalahkan namun ingin mengingatkan, status kantong perbendaharaan kita masih miskin, dengan asumsi kita harus berhasil membeli satu unit sepeda motor dalam 2 setengah bulan ini. Terimakasih kawan untuk mau mendengarkan, mari berjuang bersama-sama, karena kita adalah sebuah sistem, yang ketika satu bagian rusak, maka kita tidak bisa berjalan seutuhnya.

Regards.

3 komentar:

  1. sabar ndri .. that's what I feel too :(

    BalasHapus
  2. Nice :-)
    ga ada yang sia-sia ndri..
    semua pasti ada hikmahnya..
    segala usaha yang kita lakukan pasti akan ada hasilnya..

    don't ever think to stop..
    keep moving even there's to much thing that we have to do..

    I'm proud of you, guys..

    BalasHapus