Minggu, 10 April 2011

#NoMention

April 2011,
Situasi makin tidak kondusif, bulan ini baru kusadari kalau aku sebegitu tidak menyenangkan, awal April saja aku jadi malas kuliah, rasanya tiap kuliah beban makin bertambah saja, tapi, dirumah pun, aku jadi makhluk nomaden yang tidak bisa bergerak kemana-mana, jiwaku, ragaku, butuh isi ulang.

Kupikir, dunia kuliah akan lebih baik dari dunia sekolah, tapi sebenarnya, tidak jauh berbeda, rata-rata tiap poin sama. Bulan ini, semester ini, butuh intensitas helaan nafas yang panjang, sebagai alternatif keluhan, lebih baik menghela nafas saja bukan ?

Apa yang membuat dunia kuliahku menjadi begitu tidak menyenangkan ? padahal ketika masuk rasanya aku bisa menjadi seseorang yang biasa, menjalani segala sesuatu dengan seperti biasa, waktu baru masuk dulu aku masih bisa hemat, catatanku masih bisa penuh dan rapi, pulang kuliah tepat waktu dan punya banyak waktu istirahat, teman-teman rasanya bisa bersikap biasa, masih sopan santun sesuai dengan adat istiadat daerah asalnya. Sekarang, satu setengah semester berlalu, rasanya hala-hal tadi hanya kenangan yang menggiurkan, rasanya ingin kembali lagi ke periode itu.
Kemana mereka yang sopan? Kemana keramah-tamahan mereka? Inilah kota teman, bisa merubah seseorang menjadi sesosok makhluk yang tidak terkendali. Orang-orang yang kusebut teman-teman itu, sekarang mungkin kehilangan elemen terbaik dari status mereka “teman”. Anak-anak daerah yang seharusnya dapat menjaga baik adat baik darerahnya bahkan, rasanya sekarang telah berganti kulit menjadi “anak kota”, bahasa yang digunakan mereka sekarang tidak mencirikan bahwa mereka anak daerah, melainkan menyemprotkan identitas kekinian yang makin tidak karuan.

Sesungguhnya aku takut, akan jadi apakah aku 4 tahun lagi ? masihkah aku bisa menjadi seseorang yang beradab ? dapatkah diriku rajin meng-update antiwesternisasi tiap harinya? Ataukah aku akan bernasib tidak jauh berbeda dari mereka? Yang hanya butuh waktu 1,5 semester untuk menjadi orang “barat”?. Kutanamkan dalam hatiku, kusebutkan dalam setiap doaku, mudah-mudahan hal-hal seperti itu menjauh, menjauh sejauh-jauhnya, bahkan kutekadkan, aku lebih baik kehilangan teman daripada kehilangan diriku yang seharusnya.

Kata pepatah, pertemanan butuh kekuatan, pertemanan butuh kompromi, pertemanan butuh pengorbanan. Aku tertarik pada frasa yang terakhir, bahwa “pertemanan sesungguhnya butuh pengorbanan”. Pengorbanan berarti harus rela kehilangan salah satu yang begitu berharga. Namun, apabila “yang berharga” disini adalah diri kita sebenarnya, apakah masih diperlukan apa yang kita panggil sebagai pengorbanan itu ?. Sejujurnya, aku akan menolaknya, seperti kataku tadi, aku lebih baik kehilangan teman, daripada kehilangan diriku yang sebenarnya, aku seseorang yang sulit untuk berpura-pura, rasanya bagaikan memikul beban ribuan ton, aku lebih bahagia menyandang diriku sendiri, lebih gembira jika menjadi diriku sendiri, be my self, sepenuhnya.
Kata-kata yang seringkali menusuk hati sepertinya sudah menjadi obat yang baik untuk diriku. Diguncingi, dikatai, dikritiki di belakang, rasanya sudah menjadi sesuatu yang biasa. Aku sekarang, bukanlah anak SMA yang ketika dicaci maki kemudian berlari ke arah toilet untuk menangis dihadapan pintu toilet dan bak kamar mandi. Setidaknya dengan status “mahasiswa” yang kusandang sekarang, aku bisa menjadi seseorang yang lebih kuat, inilah hidup kawan, seburuk-buruknya harus disyukuri.

Teman, sewaktu-waktu bisa saja menjadi lawan, seseorang mengatakan bahwa dia selamanya tidak akan percaya kepada apa yang disebut persahabatan. Faktanya, hal itu tidak selamanya salah, pertemanan bukan segalanya, ketika kita dihadapkan untuk menjaganya, sebelumnya haruslah kita pertanyakan pada diri kita, akankah kita dapat menjaga diri kita terlebih dahulu ?.

Kebencian tidak ubahnya sampah yang jika disimpan, dipendam begitu lama akan menyebarkan penyakit-penyakit berbahaya yang bisa menular, kata-kata kasar, sebaiknya segera diperbaiki, sebelum orang lain mengecap bahwa diri kita tidak beradab, sensitifitas, bisa diubah, jika tidak, selamanya anda hanya akan menjadi seseorang yang lemah, tidak tahan uji dan rapuh.

Kebiasaan menyindir tidak bisakah dikurangi, sebelum anda menjadi seseorang yang benar-benar mengganggu, kepura-puraan, bisa diubah jika anda bisa menjadi sesoraang yang percaya diri, yang selalu bisa menjadi diri sendiri, hedonis, bukan paham yang baik jika selalu diterapkan di negara kita, apalagi jika hedonitas yang dilakukan tidak mengingat uang jerih payah orang tua kita, no mention.

Minggu, 27 Februari 2011

Apatisme Klimaks, Masa Bodoh To The Max

Penghujung Februari 2011,
Musim panceklik, makin tercekik. Akhir-akhir ini, aku sering sekali berhalusinasi, bahkan emosiku memuncak sampai pada tahap erupsi, aku sering marah-marah, terlihat kesal pada orang yang bahkan tidak punya salah, yaah makin tidak jelas saja.

Kata temanku, psikologisku sedang masuk pada tahap tertekan, mungkin akibat banyak pikiran, ya, mungkin, mungkin tepat sekali. Tertekan? Ya kurasa itu kata yang tepat, pasalnya di semester dua ini kuliah makin berat saja, tugas makin kejam saja dan jadwal organisasi makin padat saja.

Dua puluh empat Februari, hampir masuk bulan aries, seperti biasa aku masih “sibuk” mengurusi acara angkatan, beberapa minggu terakhir bahkan selalu tiba dirumah hampir larut malam, ketika yang lainnya sedang asyik mengerjakan tugas, aku bahkan belum tiba dirumah. Namun aku masih bersyukur, Tuhan tidak tega menambah beban hidupku dengan yang namanya penyakit.

Sovereign dan Benderang 2010, dua fenomena yang harus kami lewati untuk selanjutnya resmi menjadi bagian dari unitas hubungan internasional Universitas Padjadjaran. Acara ini sesungguhnya “cukup” menguras keringat, waktu bermain, waktu pacaran, bahkan air mata, dan yang terpenting, menguras kantong semua pihak, apa namanya? Dana!

Masih sanggupkah kawan? Berat sekali ya rasanya, berat sekali. Koordinator dana usaha sesungguhnya memang bukan jabatan yang begitu menyenangkan, maaf. Bagi orang luar, bahkan kebanyakan dari kita mungkin konsep dan embel-embelnyalah yang terpenting, namun cobalah realistis, akankah dua “monster” angkatan kita itu akan bangun dari keabstrakannya tanpa apa yang kita panggil si Dana? Akankah keabsurdannya terealisasi tanpanya? Dana ?.

Hari ini, sekadar berbagi, aku berangkat ke kampus dengan sisa-sisa semangat yang ada. Bervisi ingin mengevaluasi program kita bersama, yah, untuk mencari si Dana tadi. 08.37 angkot raksasa fenomenal yang bermerek Damri itu melintas keluar tol, terlalu pagi memang, dari janji pertama kita 09.00 pagi, untuk berkumpul, sharing mengenai masalah yang ada dan untuk berdiskusi dan mencari 16 juta bersama-sama. BerSAMA-SAMA !

09.15, kuhargai bagi yang berinisiatif untuk mau meminta izin untuk telat. 09.30, masih nihil, fatamorgana, meja batu rasanya penuh saja, oleh kita, tapi apa, itu hanya sebatas iglo di gurun pasir saja. 10.00, beberapa teman tiba, aku menghela napas. 10.30 jam di handphone, barulah kami memulai rapat, bayangkan orang indonesia jaman sekarang, tinggal di Jawa tapi patokannya jamnya jam Gadang. Rapat sangat sederhana ini dimulai seadanya lebih ke sharing menganai permasalahan klasik, apatisme klimaks, masa bodoh tothemax. Setidaknya, keberangkatanku dari bandung yang sepagi itu tidak terlalu mubazir, aku bahagia masih bisa menemukan teman-teman yang maih peduli dengan acara kita bersama, terimakasih.

Seusai kuliah, rapat berlanjut, seperti biasa, demikian. Ya Tuhan, sampai pada sesi itu, lagi-lagi persoalan dana. Teman, rasanya mulut ini sudah malas untuk terus menerus membicarakan valuta itu, tapi mau bagaimana lagi? Dialah elemen yang sangat krusial dalam setiap bidang kehidupan manusia, termasuk acara kita. Ketika mencoba berbicara, banyak yang mengobrol, membicarakan ini itu bahkan yang cukup menyakitkan ketika seseorang menyela pembicaraan kita bukan? Menyela untuk sekedar berfoto-foto dan meneriakan jargon, mataku berkaca-kaca tapi kucoba untuk bertahan. Sampai akhirnya kawan, satu kalimat membuat pertahananku runtuh, selaput air mataku kalah, air mataku meleleh, tumpah ruah, clak!. Aku hanya ingin di dengarkan, sebagai manusia aku hanya ingin dihargai.

Aku senang bisa menangis, bukan apa-apa yang kutangiskan, aku hanya menyesali nukleus otakku yang pernah mengeluarkan pikiran untuk mengundurkan diri dari semua ini, namun aku bukan manusia yang tidak punya pendirian, pendirianku tumbuh ketika melihat teman-teman yang masih rela hati mendaftar sebagai koordinator dan panitia inti acara angkatan, kekuatanku meningkat ketika melihat mahasiswa hubungan internasional yang tidak mengenal malu untuk berjualan susu, permen dan coklat, harapanku mekar ketika memandangi mereka yang dicela sebagai renterneir tiap harinya berkeliling mengingatkan sumbangan, aku bahagia setiap mendengar panggilan “AKU MAU J.CO DONG” aku bangga atas mereka yang tidak mengenal panas dan penat mengurusi table, air minum isi ulang itu obat-obatan, bola, tambang dan sepatu, mereka yang tiap detiknya mencuri gambar dari kamera mereka, mengawasi lapangan, mengantar galon air minum, menyusun proposal, sampai membawa kabar gembira memenangkan bale santika dan stadio jati padjadjaran. Mereka, saudara-saudari baruku.

Sampai detik ini, aku tidak pernah berhenti bersyukur untuk pernah mengenal mereka semua. Kesadaran mereka untuk mau menciptakan citra terbaik angkatan patut diapresiasi. Sovereign dan benderang seharusnya bukan lagi menjadi monster melainkan adalah bagian dari kita. Maret 2011 mudah-mudahan kurva defisit kita bisa setidaknya bergerak dari angka 16.000.000 rupiah itu. Mei 2011, mudah-mudahan kita berhasil menjadikan angkatan kita layak angkatan atas sebut sebagai adik. Dengan ini kawan, sama sekali tidak ada niatan untuk saling menyalahkan namun ingin mengingatkan, status kantong perbendaharaan kita masih miskin, dengan asumsi kita harus berhasil membeli satu unit sepeda motor dalam 2 setengah bulan ini. Terimakasih kawan untuk mau mendengarkan, mari berjuang bersama-sama, karena kita adalah sebuah sistem, yang ketika satu bagian rusak, maka kita tidak bisa berjalan seutuhnya.

Regards.

Minggu, 20 Februari 2011

Didedikasikan untuk seluruh panitia yang telah mempercayakan saya untuk bergabung di tempat perubahan ini, Sekolah Fisip 4

Februari 2011,

Hari yang berat namun jujur, menyenangkan, sesekali aku terdiam menatapi wajah lusuh sosok-sosok kecil itu. Wajah mereka kusam, pakaian mereka kumal, kaus kaki yag mereka gunakan berkuman entah suda berapa minggu dipakai, tubuh mereka kurus kerempeng, hitam, ada yang dipenuhi luka-luka kecil namun terlihat dibiarkan, tanpa pengobatan, ada yang matanya iritasi namun juga dianggap sepele, oh maaf, bukan menganggap sepele, namun aku mengerti, mereka tidak punya biaya, biaya untuk sekadar membeli obat, alokasi dana orang tua mereka mungkin tidak pernah menyentuh anggaran pembelian obat, ya, sekadar obat mata atau alkohol untuk membersihkan luka. Mereka anak-anak miskin, anak yatim, anak piatu, bahkan yatim piatu, namun setahuku, mereka sekarang murid-muridku, di tempat pengabdianku yang baru, sekolah fisip unpad tahun keempat.

Hari ini, aku bersyukur, karena hari ini aku begitu banyak mendapatkan pelajaran moral walau sempat sedikit tak sabar menghadapi anak-anak kelas enam SD yang bahkan tidak mampu menghitung 5 dibagi 7, mereka kelas enam teman, beberapa bulan lagi akan menempuh ujian yang mereka sebut dengan UASBN, hampir menyentuh naungan putih biru, namun sekali lagi, operasi pembagian sederhana antar satuan seperti itu saja belum mampu mereka kuasai. Aku termenung, akan jadi apakah negara kita ini, dengan generasi tingkat dasar mayoritas seperti tadi, mayoritas !, sempat terbersit, apakah hanya anak-anak dengan orang tua mapan yang berhak mengetahui cara merakit robot atau menguasai sistem komputer, menguasai rumus-rumus fisika dengan status prematur, maksudku, anak-anak serba mampu sajakah yang berhak untuk pintar? Mereka anak-anak dari sekolah dasar elit sajakah yang berhak menguasai teor-teori einstein sebelum waktunya? Lalu apakah yang salah? Sekali lagi pikiran ini mereset bahwa negara inilah yang salah. Negara ini.

Maafkan diriku karena aku kini berada dalam naungan fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, lihatlah namanya, megah sekali, salah satu fakultas dengan lulusan mayoritas politikus, ahli-ahli politik, serta pekerja atau staf pemerintahan negara bobrok ini, yang sekali lagi mayoritas tidak punya akhlak yang sudah diajarkan sejak SD, kualitas pendidikan kewarganegaraan mereka rendah, tenggang rasa, lapang dada dan materi tanggung jawab mereka nihil, pernah tertanam namun mati sudah karna jarang dipupuk dan antipelihara. Namun kawan, inilah alasan aku bergabung dengan lingkaran sekolah kecil ini, bahkan inilah alasan sekolah ini didirikan.

Setidaknya enam bulan ini kami, yang tergabung dalam sekolah fisip tahun empat ini mencoba berhenti untuk terus menyalahkan keadaan yang sudah terlanjur carut marut dengan sistem negara yang serba kacau, kami, mahasiswa realistis, yang ingin merealisasikan keinginan kami untuk memperbaiki negara ini, dari bagian yang terkecil saja, walau kami tidak bisa mencetak langsung calon-calon presiden, namun sesungguhnya, lewat sekolah fisip ini kami ingin menanamkan bahkan menumbuhkan pelajaran, yang kerap kali dilupakan oleh guru-guru mereka disekolah padahal adalah sesuatu yang sangat penting, itulah yang kita sebut dengan motivasi, semangat bersekolah, semangat untuk menghentikan pembodohan di negara ini, setidaknya mengajak mereka berpikir bahwa negara ini tidak dapat dianggap remeh, negara ini kejam, negara dengan hukum rimba dan bahkan penganut teori relativitas ketimpangan, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Beberapa bulan ini kawan, tugas kita jangan dianggap ringan, tanggung jawab kita dipertanyakan, apakah kita akan berhasil mencetak murid-murid SD yang memiliki semangat untuk menjadi manusia berakhlak dan berpendidikan ataukah kita hanya berhasil menghabiskan waktu kita yang begitu berharga dengan sia-sia? Apakah sekolah ini didirikan sebagai formalitas semata? Ajang penghamburan uang dan penipuan publik dengan proposal yang sudah disana-sini ?

Sekali lagi teman, kutuliskan ini semua sekadar ingin mengingatkan satu sama lain, bahwa tugas kita bukan hanya menyelesaikan program tanpa mendapatkan pengaruh apapun, namun inilah yang kita sebut sebagai tanggung jawab kita sebagai “Agent Of Changes”, agen perubahan, setidaknya merubah pikiran dasar murid-murid kita yang lemah, tidak bersemangat untuk berevolusi menjadi pribadi-pribadi yang mampu menjadi satu pengaruh yang baik disekitarnya.

Didedikasikan untuk seluruh panitia yang telah mempercayakan saya untuk bergabung di tempat perubahan ini

Minggu, 13 Februari 2011

WE ARE THE AGENT OF CHANGE RIGHT ?

Unpad, universitas padjadjaran, universitas kita, disinilah saya banyak belajar, bukan hanya belajar teori-teori hubungan internasional, nama, konsep dan teori ilmu politik namun disinilah saya banyak belajar bagaimana hidup seharusnya

Sudah lebih dari satu semester sejak kabar baik itu, diterimanya saya di kampus hijau ini, september silam, waktu yang cukup singkat bagi saya untuk sangat mengenal kampus ini, dengan segala keluar biasaannya, banyak menyuguhkan bukan hanya hidangan ilmu pengetahuan yang “nikmat” namun juga beribu-ribu pelajaran sosial yang dapat kita lihat, ups, bukan hanya kita lihat namun kita rasakan dan bahkan menjelma dalam setiap lingkaran kehidupan, bermetamorfosis dari pikiran anak sekolahan menjadi seorang yang MAHA, mahasiswa.

UNPAD, abstrak.
Universitas, perguruan tinggi, tidak ada perguruan tanpa murid apalagi jenjangnya sudah sampai pada perguruan tinggi. Artinya, disanalah pemecahan taksonomi guru dengan kasta tertinggi, yang dalam keseharian kita panggil dosen, dan kitalah yang masuk pada kingdom pemuridan tertinggi, kitalah MAHASISWA.

UNPAD, bhineka tunggal ika.
Berbeda-beda namun satu juga, unpad yang kita kenal, antirasisme, berkomposisikan diversitas manusia dari sabang sampai merauke bahkan menjajal berbagai bangsa di jagat ini, jepang, rusia, singapura, malaysia, india hingga zimbabwe.
Tunggu, dari sanalah banyak pelajaran yang berharga dapat saya petik, ya dari mereka, mereka yang berasal dari berbagai wilayah di muka bumi ini, saya salut bahkan bangga dengan mereka karena berada dalam satu ikatan yang sama, ikatan mahasiswa universitas padjadjaran.

Pelajaran moral pertama yang saya dapatkan dari mereka adalah bahwa mereka datang dari jauh ke negara miskin ini benar-benar dengan niat yang sungguh, niat belajar menuntut ilmu bukan dengan alasan lain. Analisis saya, dari durasi waktu yang cukup intensif, melihat mereka walau dari jauh, dari cara mereka berpakaian, tampak benar orientasi mereka berimigrasi ke indonesia adalah untuk belajar, dari penglihatan saya, waktu yang lalu, dua mahasiswi asal malaysia, ras mongoloid dan berbahasa mandarin, dengan busana seadanya, atasan kemeja kebesaran dan bawahan yang benar-benar biasa, dari penampilan ini, saya yakini, fashion bagi mereka adalah nomor kesekian ratus.

Mereka itu yang pernah kuliah satu kelas dengan saya, dalam kelas, dengan niat belajarnya yang bahkan sering berlebihan sampai-sampai mereka seringkali ditemukan tertangkap basah membaca buku berjudul “mikroskop di kelas agama. Hmm, melihat mereka yang demikian, terkadang saya iri, mahasiswa kita kebanyakan, jauh berbeda dari mereka. Bukannya mendoktrin bahwa fashion itu tidak penting, namun cobalah untuk terbuka, apa yang seringkali kita lihat, seringkali mahasiswa indonesia, bahkan jangan jauh-jauh, kampus kita sendiri, seringkali fashion dijadikan prioritas, number one, yang pertama. Pertama dari segala-galanya, yes, include kuliah, kuliah bahkan diadikan yang kesekian ratus, bukan yang pertama, not in number one, miris.

Mereka kebanyakan, mahasiswi, seringkali lebih mementingkan style dan gaya hidup retro, kuliah dikesampingkan, bahkan untuk datang, sekedar mengabsen saja sulit, titip absen lewat bbm, sms atau sudah booking dari jauh-jauh hari lewat pacar atau tema dekat, terlebih tipikal mahasiswa seperti itu, seringkali apatis, tidak tau nama teman sekelas, masa bodoh dengan program angkatan dan antiUKM dan KKM. yes! Miris sih, tapi inilah cetak biru mahasiswa kita, dengan ketimpangan yang jauh dari mereka tadi. Kita satu benua, namun watak dan cara berpikir kita seringkali berbeda, mungkin karena kita tinggal di negri ini, yang you know how –bobrok. Satu hal, fashion itu penting, namun alangkah lebih penting bahwa kita menempatkan kuliah kita, sebagai sasaran dan prioritas kita.

Oke next ke pelajaran moral yang kedua, masih masalah fashion, kali ini saya belajar dari mereka, orang india, negara jajahan inggris itu, yang sekarang sedang berada dalam masa transisi menuju kemajuan, apa yang saya dapatkan ? mereka betul betul menghargai budaya asli mereka, mereka tidak canggung mengenakan sari dan merias diri dengan satu titik putih di kening mereka, dengan gelang yang banyak dan pakaian yang sangat india, wonderfull, saya kagum, benar-benar kagum, ber mil mil jaunya negri mereka namun apa yang mereka bawa ? ya, tradisi mereka, kain sari itu dan hiasan kening itu, dan bagaimana dengan mahasiswa kita ? dengan ambisi moderenis, gaya hidup yang kebarat-baratan, oh, maaf buka hanya gaya hidup, namun gaya berpakaian, asli kebarat-baratan, seolah-oleh lupa akan budaya asli.

Selanjutnya, dari keseluruhan orang luar yang sering saya temui di kawasan kampus saya tercinta ini, satu hal kecil, mereka selalu tepat waktu, untuk masalah ini tidak usah repot-repot menjabrkan dan mendeskripsikan bagaimana tabiat mahasiswa indonesia, istilah “ngaret” bahkan seakan-akan sudah menjadi istiadat, yang turun temurun, bergenerasi. Kuliah seakan-akan menjadi sasaran “ngaretisme”, dosen yang hampir meninggalkan kelas adalah momen terbaik untuk segelintir mahasiswa kita, datang setelah dosen pergi, untuk sekedar mengabsen, mereka, ya kita lupa akan esensi kuliah sebenarnya, absen kah ? atau justru untuk di‘kuliah’i ? hampir tipis.

Masih banyak hal yang sulit untuk diuraikan dengan panjang lebar di tulisan ini, namun, saya percaya, kita masih dapat merubah keadaan, kita masih bisa menjadikan kuliah sebagai prioritas, mencintai budaya asli kita dan menghargai waktu,
Saya yakin, tidak semua mahasiswa kita seperti apa yang saya deskripsikan diatas, ya, tidak semua. Marilah kawan, indonesia butuh generasi baru yang benar-benar berkualitas, yang lebih dapat mengubah segala-galanya, we are the agent of changes right ?

regards

Rabu, 09 Februari 2011

"i'm Jared"

tidak mudah menemukan teman yang "baik"  dunia maya, apalagi jika website bersangkutan seringkali digunakan untuk kegiatan yang macam-macam, ya you know what i mean. oke untuk kedua kalinya saya berhasil melanjutkan kontak sambil bertukar alamat fb,
namanya Jared Pratt, seorang amerika,  sedang berkuliah di Internationaly House of Prayer Universtiy jurusan Apostolic Prayer Leadership, actually i dont know what does the field is haha, awalnya saya pake nama samaran, Kenova, tapi akhirnya saya memberi tahu nama asli saya. Bermodal bahasa inggris pas pasan, inilah hasil chatting kami :
 
Stranger: Hello
You: hi
You: why are u using omegle ?
Stranger: Meet people
Stranger: And I'm bored
You: good
Stranger: Why?
You: not to be seen naked on video chat ?
You: it so disgusting
Stranger: Not at all!
You: lot of omegle user are like that
Stranger: I know
You: and i hate that
Stranger: Me too
You: good
Stranger: I just want to chat with people
You: i like u
Stranger: thanks
You: me too
Stranger: :)
Stranger: I'm Jared
You: i'm kenova
You: :)
Stranger: Nice to meet you
Stranger: where are you from?
You: thanks
You: im from asia
You: and you ?
Stranger: United States
You: good
You: well hoe old are you ?
You: *how
Stranger: I'm 21
Stranger: I'll be 22 in May
You: i'm 18 this year
Stranger: Cool
You: thanks jared :)
You: so student yet ?
Stranger: Yes, I have been for a while now
You: me too
You: which one of your university ?
You: harvard ? LOL
Stranger: I go to Internationaly House of Prayer Universtiy
Stranger: International*
You: nice
Stranger: Yeah, what about you?
You: im in padjadjaran university, indonesia
Stranger: ok
You: which department ?
Stranger: What do you mean?
You: on your university, what kind of field that you take ?
Stranger: Apostolic Prayer Leadership
You: gread
You: *graet
You: *great
You: haha
Stranger: lol
Stranger: It's ok, I know what you were trying to say
You: thanks, well im in international relation field
You: and someday may be i will visit your country
You: to work with united nations may be
Stranger: Very cool
You: thaanks
Stranger: You're welcome
You: so how are you look like ?
Stranger: I'm 6'2", have brown hair, hazel eyes, tan, skinny
Stranger: You?
You: hmm
You: brown, straight hair
You: brown eyes
You: look like very indonesian
Stranger: ok
You: so let me know about your life
You: if u wish
Stranger: Ok
Stranger: I play piano
You: nice
Stranger: and sing
You: wonderfull
You: i like singing too
Stranger: Yeah, it's a lot of fun
You: i agree with you
You: so whivh kind of music ?
You: *which
Stranger: Classical mostly
You: nice!
You: who are an artist do you like ?
Stranger: Gavin Mikhail
You: and an singer ?
Stranger: He's both
You: oh oke
You: actually i dont know him
You: i sorry
Stranger: No worries
Stranger: He's not well known
You: haha
You: how about an artist hollywood ? which one do you like ?
Stranger: Johnny Depp
You: good
You: me too
You: he's verry tallented
You: isnt ?
Stranger: Yep
You: ever seen his new film ? tourist ?
Stranger: No, I really want to though
You: its ok
Stranger: Who's your favorite actor?
You: well
You: i verry like leonardo de caprio
Stranger: He's good too
Stranger: I loved him in Inception
You: GOOD
You: mee too
You: hve you an facebook account ?
Stranger: Yes
Stranger: facebook.com/watchmanprotector
You: are you an protestant ?
Stranger: Yes
You: me too
You: do you often read bible everyday ?
Stranger: Everyday for several hours
You: nice
You: which are your favourite verses ?
Stranger: Acts 2:42, John 17, Song of Solomon
You: good
You: i like that too
Stranger: yeah
You: heve u an twitter account ?
Stranger: no
Stranger: I have a blog though
Stranger: restorationblog.wordpress.com
You: well i will add you as my facebook friend if you wish
Stranger: I'd like that
You: wait for minute
You: my indonesian name is indri afrianty
You: find that ?
You: my friend request have been sent
Stranger: I added you
You: thanks
You: done
You: well i like your style lol
Stranger: Thanks :)
You: did yu find me ?
Stranger: Yes
You: well i like ur photos mostly when you playing piano haha
Stranger: :)
Stranger: Thanks
You: you can contact me on facebook if you wish, no offense :)
Stranger: ok
Stranger: Well I need to go to bed now
You: oke
You: wht time in ur country now ?
Stranger: 2:40 am
You: wow
You: nice to know you jared :)
Stranger: You too
You: can we make a contact after all of this ?
Stranger: Yes
Stranger: We'll talk on Facebook
You: okay
Stranger: Goodbye and God bless
You: dont be hesitate to contact me :)
You: god bless you too
You: bye
nice boy, i wish i can meet him someday :)

Senin, 17 Januari 2011

aku = dilemaniak

Pilihan,,
asosiasi sebuah kompetisi

menyingkirkan keinginan nurani dan mengorbankan harapan duniawi. .

Pilihan,,
personifikasi coloseum. .

Mencari penakluk menyingkirkan pecundang. .

Pilihan. .
Pada awalnya plural namun bermetamorfosis menjadi singular

Pilihan. .
Menawarkan sebuah kesempatan. .

Titik equilibrium antara klimaks dan antiklimaks. .

Sebuah klausa singkat, memediasikan paralel dan seri . .

Menciptakan konflik batin, melahirkan sensasi. .

Menempatkan jiwa pada situasi dilematis. .

Berwatak pencemburu dan antonim dari keanekaragaman

Pilihan. .
Tariklah dia ketika anda memiliki hak.

Tawarkan dia ketika anda menginginkan yang terbaik. .

Campakan dia ketika ia radikal dan selalu sarkasme. .

Gunakan sebaik-baiknya ketika dia datang pada saat yang tidak tepat

Pilihan sebuah mutualisme dan terkadang parasitisme. .

memproduksi madu ketika anda berhasil mengambil yang terbaik darinya

dan menjalarkan racun saat anda tergesa-gesa mengambilnya

ingatlah. .
Butuh kematangan dalam mencapainya .

aku = penyair kehidupan ..

hmm, tulisan ini hahaha
terimakasih buat pembaca pertamannya hihi
 
 
Antara kita dan kehidupan
by Indri Afrianty on Saturday, 28 November 2009 at 10:53
 
Kehidupan. . .

Sebuah kata abstrak dengan butiran frase didalamnya

Kadang,,
kita tidak ingat bahwa kita sedang bermain. .

Bermain-main besama elemen-elemen kongkrit namun semata-mata semu. .

Memang,,
kehidupan adalah sebuah drama yang sedang dipentaskan. .

Berjalan sesuai plot pikiran pemerannya..

Memiliki amanat berdasarkan sudut pandang penciptannya..

Walaupun,,
dalam kata abstrak itu kegagalan sering dinyatakan..

Namun,,
ia berkembang bersama penalaran sang subjek. .

Perlahan-lahan mendewasakan seorang pribadi yang terlahir sebagai kulit telur

Dalam drama itu pula kita mengalami proser pendidikan. .

Dengan berbagai materi yang ditargetkan selesai dalam masanya sendiri

kehidupan, menyuratkan sebuah kausatif memadupadankan denotasi dan konotasi dan berakhir dengan silogisme. .

Itulah realita waktu dan masa yang harus kita jalani..

Sepahit-pahitnya, itu adalah lukisan kita. . .