Minggu, 20 Februari 2011

Didedikasikan untuk seluruh panitia yang telah mempercayakan saya untuk bergabung di tempat perubahan ini, Sekolah Fisip 4

Februari 2011,

Hari yang berat namun jujur, menyenangkan, sesekali aku terdiam menatapi wajah lusuh sosok-sosok kecil itu. Wajah mereka kusam, pakaian mereka kumal, kaus kaki yag mereka gunakan berkuman entah suda berapa minggu dipakai, tubuh mereka kurus kerempeng, hitam, ada yang dipenuhi luka-luka kecil namun terlihat dibiarkan, tanpa pengobatan, ada yang matanya iritasi namun juga dianggap sepele, oh maaf, bukan menganggap sepele, namun aku mengerti, mereka tidak punya biaya, biaya untuk sekadar membeli obat, alokasi dana orang tua mereka mungkin tidak pernah menyentuh anggaran pembelian obat, ya, sekadar obat mata atau alkohol untuk membersihkan luka. Mereka anak-anak miskin, anak yatim, anak piatu, bahkan yatim piatu, namun setahuku, mereka sekarang murid-muridku, di tempat pengabdianku yang baru, sekolah fisip unpad tahun keempat.

Hari ini, aku bersyukur, karena hari ini aku begitu banyak mendapatkan pelajaran moral walau sempat sedikit tak sabar menghadapi anak-anak kelas enam SD yang bahkan tidak mampu menghitung 5 dibagi 7, mereka kelas enam teman, beberapa bulan lagi akan menempuh ujian yang mereka sebut dengan UASBN, hampir menyentuh naungan putih biru, namun sekali lagi, operasi pembagian sederhana antar satuan seperti itu saja belum mampu mereka kuasai. Aku termenung, akan jadi apakah negara kita ini, dengan generasi tingkat dasar mayoritas seperti tadi, mayoritas !, sempat terbersit, apakah hanya anak-anak dengan orang tua mapan yang berhak mengetahui cara merakit robot atau menguasai sistem komputer, menguasai rumus-rumus fisika dengan status prematur, maksudku, anak-anak serba mampu sajakah yang berhak untuk pintar? Mereka anak-anak dari sekolah dasar elit sajakah yang berhak menguasai teor-teori einstein sebelum waktunya? Lalu apakah yang salah? Sekali lagi pikiran ini mereset bahwa negara inilah yang salah. Negara ini.

Maafkan diriku karena aku kini berada dalam naungan fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, lihatlah namanya, megah sekali, salah satu fakultas dengan lulusan mayoritas politikus, ahli-ahli politik, serta pekerja atau staf pemerintahan negara bobrok ini, yang sekali lagi mayoritas tidak punya akhlak yang sudah diajarkan sejak SD, kualitas pendidikan kewarganegaraan mereka rendah, tenggang rasa, lapang dada dan materi tanggung jawab mereka nihil, pernah tertanam namun mati sudah karna jarang dipupuk dan antipelihara. Namun kawan, inilah alasan aku bergabung dengan lingkaran sekolah kecil ini, bahkan inilah alasan sekolah ini didirikan.

Setidaknya enam bulan ini kami, yang tergabung dalam sekolah fisip tahun empat ini mencoba berhenti untuk terus menyalahkan keadaan yang sudah terlanjur carut marut dengan sistem negara yang serba kacau, kami, mahasiswa realistis, yang ingin merealisasikan keinginan kami untuk memperbaiki negara ini, dari bagian yang terkecil saja, walau kami tidak bisa mencetak langsung calon-calon presiden, namun sesungguhnya, lewat sekolah fisip ini kami ingin menanamkan bahkan menumbuhkan pelajaran, yang kerap kali dilupakan oleh guru-guru mereka disekolah padahal adalah sesuatu yang sangat penting, itulah yang kita sebut dengan motivasi, semangat bersekolah, semangat untuk menghentikan pembodohan di negara ini, setidaknya mengajak mereka berpikir bahwa negara ini tidak dapat dianggap remeh, negara ini kejam, negara dengan hukum rimba dan bahkan penganut teori relativitas ketimpangan, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Beberapa bulan ini kawan, tugas kita jangan dianggap ringan, tanggung jawab kita dipertanyakan, apakah kita akan berhasil mencetak murid-murid SD yang memiliki semangat untuk menjadi manusia berakhlak dan berpendidikan ataukah kita hanya berhasil menghabiskan waktu kita yang begitu berharga dengan sia-sia? Apakah sekolah ini didirikan sebagai formalitas semata? Ajang penghamburan uang dan penipuan publik dengan proposal yang sudah disana-sini ?

Sekali lagi teman, kutuliskan ini semua sekadar ingin mengingatkan satu sama lain, bahwa tugas kita bukan hanya menyelesaikan program tanpa mendapatkan pengaruh apapun, namun inilah yang kita sebut sebagai tanggung jawab kita sebagai “Agent Of Changes”, agen perubahan, setidaknya merubah pikiran dasar murid-murid kita yang lemah, tidak bersemangat untuk berevolusi menjadi pribadi-pribadi yang mampu menjadi satu pengaruh yang baik disekitarnya.

Didedikasikan untuk seluruh panitia yang telah mempercayakan saya untuk bergabung di tempat perubahan ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar