Unpad, universitas padjadjaran, universitas kita, disinilah saya banyak belajar, bukan hanya belajar teori-teori hubungan internasional, nama, konsep dan teori ilmu politik namun disinilah saya banyak belajar bagaimana hidup seharusnya
Sudah lebih dari satu semester sejak kabar baik itu, diterimanya saya di kampus hijau ini, september silam, waktu yang cukup singkat bagi saya untuk sangat mengenal kampus ini, dengan segala keluar biasaannya, banyak menyuguhkan bukan hanya hidangan ilmu pengetahuan yang “nikmat” namun juga beribu-ribu pelajaran sosial yang dapat kita lihat, ups, bukan hanya kita lihat namun kita rasakan dan bahkan menjelma dalam setiap lingkaran kehidupan, bermetamorfosis dari pikiran anak sekolahan menjadi seorang yang MAHA, mahasiswa.
UNPAD, abstrak.
Universitas, perguruan tinggi, tidak ada perguruan tanpa murid apalagi jenjangnya sudah sampai pada perguruan tinggi. Artinya, disanalah pemecahan taksonomi guru dengan kasta tertinggi, yang dalam keseharian kita panggil dosen, dan kitalah yang masuk pada kingdom pemuridan tertinggi, kitalah MAHASISWA.
UNPAD, bhineka tunggal ika.
Berbeda-beda namun satu juga, unpad yang kita kenal, antirasisme, berkomposisikan diversitas manusia dari sabang sampai merauke bahkan menjajal berbagai bangsa di jagat ini, jepang, rusia, singapura, malaysia, india hingga zimbabwe.
Tunggu, dari sanalah banyak pelajaran yang berharga dapat saya petik, ya dari mereka, mereka yang berasal dari berbagai wilayah di muka bumi ini, saya salut bahkan bangga dengan mereka karena berada dalam satu ikatan yang sama, ikatan mahasiswa universitas padjadjaran.
Pelajaran moral pertama yang saya dapatkan dari mereka adalah bahwa mereka datang dari jauh ke negara miskin ini benar-benar dengan niat yang sungguh, niat belajar menuntut ilmu bukan dengan alasan lain. Analisis saya, dari durasi waktu yang cukup intensif, melihat mereka walau dari jauh, dari cara mereka berpakaian, tampak benar orientasi mereka berimigrasi ke indonesia adalah untuk belajar, dari penglihatan saya, waktu yang lalu, dua mahasiswi asal malaysia, ras mongoloid dan berbahasa mandarin, dengan busana seadanya, atasan kemeja kebesaran dan bawahan yang benar-benar biasa, dari penampilan ini, saya yakini, fashion bagi mereka adalah nomor kesekian ratus.
Mereka itu yang pernah kuliah satu kelas dengan saya, dalam kelas, dengan niat belajarnya yang bahkan sering berlebihan sampai-sampai mereka seringkali ditemukan tertangkap basah membaca buku berjudul “mikroskop di kelas agama. Hmm, melihat mereka yang demikian, terkadang saya iri, mahasiswa kita kebanyakan, jauh berbeda dari mereka. Bukannya mendoktrin bahwa fashion itu tidak penting, namun cobalah untuk terbuka, apa yang seringkali kita lihat, seringkali mahasiswa indonesia, bahkan jangan jauh-jauh, kampus kita sendiri, seringkali fashion dijadikan prioritas, number one, yang pertama. Pertama dari segala-galanya, yes, include kuliah, kuliah bahkan diadikan yang kesekian ratus, bukan yang pertama, not in number one, miris.
Mereka kebanyakan, mahasiswi, seringkali lebih mementingkan style dan gaya hidup retro, kuliah dikesampingkan, bahkan untuk datang, sekedar mengabsen saja sulit, titip absen lewat bbm, sms atau sudah booking dari jauh-jauh hari lewat pacar atau tema dekat, terlebih tipikal mahasiswa seperti itu, seringkali apatis, tidak tau nama teman sekelas, masa bodoh dengan program angkatan dan antiUKM dan KKM. yes! Miris sih, tapi inilah cetak biru mahasiswa kita, dengan ketimpangan yang jauh dari mereka tadi. Kita satu benua, namun watak dan cara berpikir kita seringkali berbeda, mungkin karena kita tinggal di negri ini, yang you know how –bobrok. Satu hal, fashion itu penting, namun alangkah lebih penting bahwa kita menempatkan kuliah kita, sebagai sasaran dan prioritas kita.
Oke next ke pelajaran moral yang kedua, masih masalah fashion, kali ini saya belajar dari mereka, orang india, negara jajahan inggris itu, yang sekarang sedang berada dalam masa transisi menuju kemajuan, apa yang saya dapatkan ? mereka betul betul menghargai budaya asli mereka, mereka tidak canggung mengenakan sari dan merias diri dengan satu titik putih di kening mereka, dengan gelang yang banyak dan pakaian yang sangat india, wonderfull, saya kagum, benar-benar kagum, ber mil mil jaunya negri mereka namun apa yang mereka bawa ? ya, tradisi mereka, kain sari itu dan hiasan kening itu, dan bagaimana dengan mahasiswa kita ? dengan ambisi moderenis, gaya hidup yang kebarat-baratan, oh, maaf buka hanya gaya hidup, namun gaya berpakaian, asli kebarat-baratan, seolah-oleh lupa akan budaya asli.
Selanjutnya, dari keseluruhan orang luar yang sering saya temui di kawasan kampus saya tercinta ini, satu hal kecil, mereka selalu tepat waktu, untuk masalah ini tidak usah repot-repot menjabrkan dan mendeskripsikan bagaimana tabiat mahasiswa indonesia, istilah “ngaret” bahkan seakan-akan sudah menjadi istiadat, yang turun temurun, bergenerasi. Kuliah seakan-akan menjadi sasaran “ngaretisme”, dosen yang hampir meninggalkan kelas adalah momen terbaik untuk segelintir mahasiswa kita, datang setelah dosen pergi, untuk sekedar mengabsen, mereka, ya kita lupa akan esensi kuliah sebenarnya, absen kah ? atau justru untuk di‘kuliah’i ? hampir tipis.
Masih banyak hal yang sulit untuk diuraikan dengan panjang lebar di tulisan ini, namun, saya percaya, kita masih dapat merubah keadaan, kita masih bisa menjadikan kuliah sebagai prioritas, mencintai budaya asli kita dan menghargai waktu,
Saya yakin, tidak semua mahasiswa kita seperti apa yang saya deskripsikan diatas, ya, tidak semua. Marilah kawan, indonesia butuh generasi baru yang benar-benar berkualitas, yang lebih dapat mengubah segala-galanya, we are the agent of changes right ?
regards
Tidak ada komentar:
Posting Komentar